Anak-Anak Gaza: Kelaparan, Putus Sekolah, dan Jadi Yatim di Tengah Perang

Gaza – Ribuan anak di Gaza kini hidup dalam penderitaan panjang akibat konflik. Lebih dari dua tahun perang membuat masa kecil mereka hilang, berganti dengan kelaparan, kehilangan, dan trauma yang mendalam.

Salah satunya dialami Rahma Abu Abed (12). Rumahnya di Gaza Selatan hancur lebur, meninggalkan keluarga kecilnya tanpa tempat tinggal. Kini Rahma bersama orang tua dan saudaranya menumpang di gudang sempit, hanya bisa makan sekali sehari, dan berbagi ruang dengan pengungsi lain.

Menurut laporan PBB, sekitar 1,1 juta anak di Gaza membutuhkan dukungan psikologis. Sebagian besar putus sekolah hampir dua tahun. Bahkan, anak di bawah lima tahun terancam malnutrisi akut akibat blokade pangan. Data otoritas kesehatan Gaza menyebut lebih dari 18 ribu anak Palestina tewas sejak serangan Israel dimulai pasca 7 Oktober 2023.

Kelaparan menjadi bagian hidup sehari-hari. Pasokan makanan dibatasi, harga bahan pokok melonjak lebih dari sepuluh kali lipat. Meski ada bantuan pangan, perjalanan menuju titik distribusi penuh risiko, ratusan warga ditembak ketika mencoba mengambil bantuan.

Pendidikan pun lumpuh. Sekitar 95 persen sekolah rusak atau beralih fungsi menjadi kamp pengungsian. Sebagian relawan sempat membuka kelas darurat di tenda, namun tidak bertahan lama. Upaya pembelajaran daring juga sulit dijalankan karena listrik dan internet terbatas.

Tak sedikit anak Gaza juga kehilangan orang tua. Sajed al-Ghalban (10) misalnya, kini tinggal di tenda setelah kedua orang tuanya tewas dalam serangan. Ia merawat dua saudaranya yang terluka sambil mencoba bertahan hidup.

PBB mencatat sedikitnya 40 ribu anak di Gaza telah menjadi yatim sejak perang pecah. Masa kecil yang seharusnya penuh tawa kini tergantikan dengan rasa lapar, duka, dan ketakutan tanpa akhir.