Baturaja – lalulintasnews id
Kapolsek Baturaja Timur AKP Azwan, SH., MH menggelar kegiatan koordinasi bersama Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) se-Kecamatan Baturaja Timur dalam rangka mendukung dan menyukseskan Program Ketahanan Pangan Nasional berbasis komunitas jagung.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Rabu (28/1/2026) sekitar pukul 10.30 WIB di Kantor Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Batumarta I.
Koordinasi ini bertujuan untuk menyamakan persepsi, memperkuat sinergi lintas sektor, serta membahas strategi pencapaian target produksi jagung pada kuartal I tahun 2026. Dalam program tersebut, Kecamatan Baturaja Timur ditargetkan mampu menghasilkan panen jagung sebanyak 20 ton yang direncanakan akan diserap oleh Perum Bulog.
Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Kapolsek Baturaja Timur AKP Azwan, SH., MH, Koordinator Penyuluh BPP Batumarta I Ir. Yuni Tawatina, Kanit Binmas Polsek Baturaja Timur Aiptu Iwansyah, Bhabinkamtibmas Kelurahan Sepancar Aiptu MGS Heriyanto, serta seluruh PPL yang bertugas di wilayah Kecamatan Baturaja Timur.
Dalam sambutannya, Kapolsek Baturaja Timur AKP Azwan menyampaikan bahwa program penanaman jagung pada kuartal pertama tahun 2026 telah ditetapkan dengan target panen sebesar 20 ton. Ia menegaskan, hasil panen tersebut nantinya diharapkan dapat dijual langsung ke Bulog sebagai bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan nasional dan menjaga stabilitas pasokan.
“Target ini tentu membutuhkan kerja sama dan komitmen bersama. Kami berharap peran aktif PPL dalam mendampingi dan mendorong kelompok tani agar target panen dapat tercapai sesuai rencana,” ujar Kapolsek.
Sementara itu, Koordinator Penyuluh BPP Batumarta I Ir. Yuni Tawatina dalam sambutannya menjelaskan bahwa petani binaan PPL di wilayah Baturaja Timur saat ini mengelola lahan jagung dengan luas kurang lebih 62 hektare. Namun demikian, ia mengungkapkan bahwa sebagian petani masih enggan menjual hasil panennya ke Bulog.
Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh sejumlah faktor, di antaranya persyaratan penjualan yang dinilai cukup banyak serta harga beli yang dianggap lebih rendah dibandingkan harga pasar. Selain itu, petani juga menyoroti penanganan pasca panen oleh Bulog yang dinilai belum optimal, khususnya terkait pengembalian kondisi lahan setelah proses panen.
Dalam sesi diskusi, sejumlah PPL menyampaikan pandangan dan kondisi di wilayah masing-masing. PPL Kelurahan Sepancar Lawang Kulon menyampaikan bahwa target panen 20 ton masih memungkinkan untuk dicapai, namun diperlukan dukungan sarana pasca panen, khususnya alat pengering jagung. Ia menilai, tanpa alat pengering sendiri, pencapaian target akan sulit terpenuhi karena biaya sewa yang cukup tinggi. Untuk wilayah Sepancar, penanaman jagung diperkirakan mencapai sekitar 31 hektare pada akhir Januari.
Sementara itu, PPL Kemelak Bindung Langit menjelaskan bahwa penanaman jagung di wilayahnya sebagian besar berada di lahan Omiba, sedangkan untuk lahan di luar kawasan tersebut saat ini hanya terdapat di area belakang Kantor Pemerintah Daerah OKU.
Adapun PPL Tanjung Baru menyampaikan bahwa di wilayahnya hanya terdapat dua kelompok tani komunitas jagung. Namun, kelompok tani tersebut cenderung memilih menjual jagung dalam kondisi basah karena dinilai memiliki harga jual yang lebih tinggi dibandingkan jagung kering.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Kapolsek Baturaja Timur menyampaikan apresiasi kepada seluruh PPL yang telah aktif berdiskusi dan menyampaikan kondisi riil di lapangan. Ia berharap ke depan para PPL dapat terus mendorong kelompok tani agar bersedia menyalurkan hasil panen jagung ke Bulog sebagai bagian dari dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional.
Kegiatan koordinasi dan diskusi tersebut berakhir sekitar pukul 11.10 WIB dan berlangsung dalam keadaan aman, tertib, serta kondusif.







